
Protes, Larut, heningnya kata-kataku
Aku
melantunkan teriakanku dalam lengang
Tak ada yang
menoleh kearahku
Mereka tidak
paham potensi duniaku
Aku lalu
menyepi dan mulai memberontak
Kata-kataku
tidak pernah tidur
Dan mulai
bertanya
Masih adakah
yang mendengarkanku?
Aku sudah
kehabisan tenaga berteriak
Mulutku gaduh
oleh teriakanku sendiri
Aku
melengkungkan lidahku dan mencoba bersuara
Tapi, sekali-kali
tenggorokanku menyedotnya
Aku mulai
terbujur kaku
Aliran daraku
mulai berkecamuk
Terhadap
suara yang tak kunjung datang
Terus dan
terus bersemayam