Senin, 05 Januari 2026

MUSIM YANG TERTINGGAL DIMATA-MU 
(Azist Haryono)

Angin tak lagi meraung, ia hanya parau,
Menyampaikan salam perpisahan dari musim dingin yang kian menjauh.
 

Di tepian jalan, kelopak bunga mulai terjaga,
Menebar wangi semi yang merayu dunia,
Namun aromanya tak kunjung menyentuh relung sukmaku.

Meski kau berdiri di hadapanku dengan senyum paling fana,
Menatapku dengan binar hangat yang sanggup melelehkan salju,
Hatiku masih menjadi tawanan beku yang membisu.
Di hadapan cintamu yang mekar dengan anggun namun rapuh,
Aku goyah, tertatih dalam pilu yang tak berani menaruh harap padamu.



Engkau adalah keindahan yang teramat tajam hingga melukaiku
sepasang mata yang tersenyum meski menyimpan telaga duka.
Datang sebagai takdir yang tak terelakkan,

Mencintaiku dengan ketulusan yang tak mampu kupikul.

Kini, biarlah semua ini memudar, melenyap seperti embun dalam mimpi.

Di balik jendela tempat rintihan hujan menuliskan rindu,
Aku mencoba merangkai kembali serpihan ingatan tentangmu.
Pada tiap baris surat yang kutulis hingga fajar tiba,
Kurelakan kau menjadi kenangan paling indah yang pernah tak bisa kumiliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MUSIM YANG TERTINGGAL DIMATA-MU  (Azist Haryono) Angin tak lagi meraung, ia hanya parau, Menyampaikan salam perpisahan dari musim dingin yan...